
Legenda Nenek Pakande | Cerita Rakyat Sulawesi | Kisah Nusantara
Alkisah Dahulu kala, hiduplah seorang nenek tua bernama Pakande. Namun tak seperti nenek pada umumnya. Nenek Pakande terkenal dengan ilmu hitam tingkat tinggi. Namun semua itu tak didapatkan dengan mudah. Ada syarat yang harus dipenuhi sang nenek terlebih dahulu.
Demi mempertahankan ilmu sihirnya. Sang nenek diharuskan menyantap seorang bayi atau anak kecil. Selama ini, nenek Pakande telah menjelajahi satu demi satu desa. Mencari anak-anak untuk dijadikan mangsanya. Banyak orang tua yang telah kehilangan anak mereka karena keganasan sang nenek.
Hingga suatu hari, sampai lah dia di sebuah desa. Di daerah Sopeng. Dia mengamati dari kejauhan perkampungan itu. Nenek Pakande tertawa licik penuh makna ketika mendengar suara gelak tawa anak kecil. Tengah bermain riang gembira.
Sesekali juga terdengar tangis bayi di antara rumah-rumah warga. Tanpa pikir panjang, nenek Pakande segera mencari tempat untuk bernaung. Akhirnya dia menemukan sebuah gua. Di tempat itulah dia bersembunyi sambil menunggu malam berikutnya tiba. Ketika fajar menyingsing, para warga bergegas memulai aktivitas sehari-hari mereka.
Seperti bercocok tanam, berdagang, hingga menempa besi. Daerah Sopeng memang terkenal damai dengan warga yang hidup rukun dan saling bahu-membahu. Saat senja telah tiba, pelan-pelan kesibukan di desa itu juga ikut beristirahat. Para penduduk telah kembali ke rumahnya masing-masing.
Gambaran sebuah desa yang tentram.
Malam hari telah tiba, Nenek Pakande sudah bersiap untuk melakukan perburuannya. Secepat kilat dia terbang menembus lebatnya hutan menuju berkampungan warga. Nenek Pakande mulai memeriksa satu persatu rumah warga. Hingga terdengar suara tangisan bayi yang terbangun dari tidurnya. Sang Nenek tertawa bahagia, dia segera berhenti di rumah itu dan mengamati.
Merasa aman, Sang Nenek segera melancarkan aksinya. Hanya dalam waktu singkat, dia berhasil membawa bayi tersebut dengan mudah. Nenek Pakande kemudian membawa bayi itu pergi ke tempat persembunyiannya. Melihat bayi kecilnya sudah tak ada di tempat, seketika Sang Ibu berteriak.
Tolong.
..! Tolong..
.! Bayiku hilang…
! Bayiku…!
Bayiku hilang…! Semua orang di rumah itu bahkan para tetangga berkumpul untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
Desa yang semula damai, tenang, dan tentram mulai malam itu telah berubah mencekam. Esok hari, setelah kejadian tersebut, banyak orang bertanya-tanya, siapa pelaku penculik bayi tersebut. Para warga beranggapan bahwa kejadian itu adalah ulah hewan buas. Ada juga kabar, jika itu semua adalah ulah hantu. Banyak orang tua mulai khawatir terhadap keselamatan anak-anak mereka, terutama anak kecil dan bayi.
Suatu hari, saat menjelang malam, ada sepasang kakak Adik yang tengah asik bermain di pekarangan rumahnya. Kalian berdua segera masuk ke dalam, segera mandi. Ibu sudah menyiapkan air hangat untuk kalian. Iya bu, sebentar lagi.
Apakah kalian tak tahu ada bayi dari kampung sebelah yang hilang di bawa hantu?
Bagaimana jika itu terjadi pada kalian? Masa ibu, masih percaya hantu. Hihihihih…
. Hantu rugi membawa kita. Kan Adik makannya banyak. Hehehehe. Sebentar lagi ya bu.
Aku akan memakanmu anak kecil. Kakak, berhenti. Itu seram betul. Aku takut ! Hahahaha, seram ya.
Dia suka anak kecil yang main malam hari. Tapi Kak, gimana kalau hantunya datang ? Eh, ayo kita sembunyi di balik pohon itu, supaya ibu mengira kita diculik hantu. Nanti ibu marah. Tenang, hanya sebentar.
Kita buat ibu kaget. Keduanya tak peduli dengan peringatan sang ibu, tanpa mereka sadari Sepasang mata nan jahat telah mengintai dari belakang mereka. Hehehe, anak-anak manis bermain di malam hari. Dagingnya masih segar. Kaka, itu tadi suara mu.
Bukan aku. Kalian suka bermain ya. Sekarang aku yang ajak kalian main di tempat gelap selamanya. Melesat cepat nenek Pakande, menerjang dan menyergap mereka membawa kabur keduanya. Ibu!
Seperti mendengar jeritaan anaknya, sang ibu panik segera lari untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
Hanya terlihat sebuah asap merah terbang membawa kedua anaknya. Tolong! Tolong! Tolong!
Tolong! Ada yang menculik anakku tolong ! Tolong ! Mendengar suara gaduh, para tetangga bergegas. Ada apa yang kau berteriak-teriak?
Ah, ada sosok seperti hantu yang melayang membawa kedua anakku. Apakah kamu tak salah lihat? Tidak! Aku masih waras. Tolonglah ada yang menculik anakku.
Apakah kamu ini sedang mengigau? Sepertinya apa yang dia katakan benar. Ayo kita cari anak-anak itu. Anak-anak itu kemudian dibawa sang nenek kedalam gua tempatnya bernaung. Ampun nek, kami mau diapakan nek.
Ampun nek. Kalian akan ku jadikan santapan. Agar tubuhku semakin kuat. Daging anak kecil. Manis, lembut.
Jangan nek, kami masih kecil. Belum enak. Masih banyak tanah di kaki kami. Belum bersih nek. Licik juga kau anak kecil.
Tapi tenang saja. Aku tak akan memangsa kalian. Belum. Aku akan kumpulkan semua anak-anak di desa ini. Setelah lengkap, baru lah pestaku dimulai.
Kalian semua akan ku mangsa bersama-sama. Hingga larut malam, para warga belum menemukan keberadaan kedua anak itu. Akhirnya para warga sepakat untuk melaporkan kepada tetua. Ada apa, kalian malam-malam begini datang ke mari.
Warga itu pun menceritakan hilangnya dua anak yang sampai sekarang belum berhasil ditemukan.
Kumpulkan semua warga. Ayo kita lakukan pencarian sampai ketemu. Pencarian itu pun berlanjut. Kini semua warga ikut mencari. Hingga waktu hampir pagi.
Pencarian ini kita tunda untuk sementara waktu. Pulanglah kalian untuk makan dan beristirahat. Siang hari berkumpulah di Balai desa. Kenapa tidak kita lanjutkan? Kita belum menemukan mereka.
Tak mungkin kita melanjutkannya. Kalian juga belum istirahat sama sekali sejak tadi malam. Aku takut jika terjadi apa-apa. Selain itu, kita juga tak tahu apa yang sedang kita hadapi sebenarnya. Terlalu berbahaya jika kita melanjutkannya.
Semua orang membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing. Sesuai perintah tetua desa. Siang hari, semua warga mulai berkumpul di Balai desa. Tetua, tetua. Saya baru kembali dari kampung sebelah dan mendapat kabar.
Jika ternyata ini semua ulah seorang nenek tua Sakti yang sedang memperkuat ilmu hitamnya. Hah? Nenek tua, apa benar seperti itu? Iya, tetua. Sosok itu disebut.
.. Nenek Pakande. Kemungkinan besar, dia lah yang membawa kakak beradik itu. Semua warga terkejut mendengarnya.
Mereka kebingungan dan pasrah bagaimana menghadapi ancaman Nenek Pakande tersebut. Kepala desa pun bertanya kepada La Beddu tentang langkah apa yang perlu dilakukan untuk membawa anak-anak itu kembali. La Beddu menjelaskan bahwa hampir mustahil bagi manusia biasa untuk melawan Nenek Pakande. Sang Nenek hanya takut kepada seorang sosok raksasa bernama Raja Bangkung Pitu Repa Rawo Ale. Sosok itu adalah raksasa baik hati dengan tubuh besar.
Juga gemar menyantap manusia, namun manusia yang dimakan hanya mereka yang bengis dan gemar berbuat jahat. Akan tetapi, keberadaan Raja Bangkung Pitu Repa Rawo Ale sudah lama tak diketahui bagaimana cara menemukannya. Apakah kita benar-benar bisa mengalahkan Nenek Pakande? Saya memiliki ide, Tetua. Ada satu cara untuk mengalahkan Nenek Pakande.
Bagaimana caranya, La Beddu ? Begini, Tetua. Saya membutuhkan beberapa ekor belut dan kura-kura. Lalu sebuah garu, air berbusa, kulit rebung kering, dan sebuah batu besar. Tolong kumpulkan semua itu dan bawa ke rumah saya.
Kalian semua sudah mendengarkan apa yang dikatakan La Beddu.
Cepat kumpulkan semua yang diminta dan bawa ke rumahnya. Seketika warga membubarkan diri, mereka segera mencari apa yang diperintahkan La Beddu. Setelah semuanya terkumpul, barulah mereka menuju rumah La Beddu. Hei La Beddu, semua barang yang kau butuhkan, kini tersedia.
Sekarang jelaskan apa guna barang ini. Begini, kura-kura ini akan ku gunakan sebagai kutu raksasa. Dan garu ini sebagai sisirnya. Air berbusa akan kugunakan sebagai air liur. Sementara kulit rebung kering, akan kupakai untuk membuat suara menggelegar.
Jadi, kamu akan menyamar sebagai raksasa Raja Bangkung Pitu Repa Rawo Ale. Benar sekali, Tetua. Lantas, belut dan batu besar itu? Jadi, nanti saat nenek Pakande telah masuk ke dalam rumah, letakkan belut-belut di tangga agar dia terpeset.
Lalu, batu besar itu disiapkan dibawah tangga untuk menjatuhkannya dengan keras.
Dan satu lagi, aku butuh bayi untuk memancing nenek Pakande masuk ke dalam perangkap. Baiklah, nanti malam kita jalan rencananya. Tapi, apakah kamu yakin, nenek Pakande akan datang ke rumah ini? Nanti malam, semua rumah di desa akan dimatikan penerangannya. Hanya rumah ini yang akan tetap menyala.
Dan, kita tambah dengan tangisan bayi. Nenek Pakande pasti akan datang. Malam pun tiba, para warga mengunci rapat -rapat pintu mereka. Dan memadamkan penerangan di rumah masing -masing. Hanya tersisa rumah La Beddu yang masih terlihat paling terang.
Untuk apa kalian menangis? Air mata hanya akan membuat daging kalian semakin lezat. Kembalikan kami, nek. Kami ingin pulang. Kami tak kuat di sini.
Diamlah, sekarang makanlah makanan yang sudah ku siapkan. Agar tubuh kalian jadi lebih nikmat saatku makan.
Ampun, nek. Kami mau pulang. Jangan makan kami, nek.
Aku akan pergi mencari mangsa lagi. Tapi dengar ini baik-baik. Jika aku kembali dan makanan ini masih utuh, akanku makan jari-jari kalian satu -persatu. Ampun..
…! Di malam itu, rembulan bersinar begitu terang.
Sang nenek pun sudah mulai berkeliaran, mengendus mencari mangsanya. Dia heran, mengapa tak ada satupun lampu yang menyala di desa itu, kecuali satu rumah. Sang nenek pun menghampiri rumah tersebut untuk mengamati lebih dekat. Dan benar saja, di tengah pengamatannya, terdengar tangis bayi. Betapa senang hati nenek Pakande mendengar suara itu.
Di dalam rumah, bayi itu dijaga ketat oleh warga, karena mereka takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tanpa rasa curiga, nenek Pakande langsung masuk ke dalam rumah. Sementara itu, warga dengan hati-hati meletakkan beberapa ekor belut di tangga. Dan sebuah batu besar dibawah tangga. Ketika nenek Pakande sedang mencari keberadaan bayi itu, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sebuah suara.
Hei nenek Pakande, apa gerangan yang membuatmu datang kemari? Aku datang untuk mengambil bayi itu.
Siapa kau? Kau tak mengenaliku. Aku lah, Raja Bangkung Pitu Repa Rawo Ale.
Bayi itu, ini berada di bawah perlindunganku. Tak mungkin. Kau bukan Raja Bangkung Pitu Repa Rawo Ale. La Beddu pun menumpahkan seember air berbusa untuk mengelabuhi nenek Pakande sebagai air liur sang raksasa. Aku lapar.
Lihatlah, air liurku sudah mengalir deras. Jika kau tak segera enyah dari hadapanku, maka kau lah yang akan menjadi santapanku. Pasti, pasti kau hanya manusia biasa. Yang menyamar sebagai Raja Bangkung Pitu Repa Rawo Ale. Garu besar dijatuhkan ke lantai, menyerupai sisir raksasa.
Disusul dengan kura-kura yang diglindingkan satu persatu bagaikan kutu-kutu raksasa yang berjatuhan. Ah, kau membuatku marah. Kepalaku memanas, begitu panas hingga kutu -kutu dirambutku pun berjatuhan ke lantai. Mendengar kura-kura jatuh berserakan dan garu yang dibanting, nenek Pakande pun mulai ketakutan. Matanya membelalak, nafasnya tersengal, sosok dihadapannya tampak terlalu mengerikan untuk dilawan.
Pergilah, pergi jauh-jauh dan jangan lagi pernah menginjakan kakimu di tanah ini. Ba-ba-ba-baik. Aku pergi, aku pergi. Masih diliputi ketakutan dan seolah tak percaya dengan apa yang dihadapinya, nenek Pak Kande berjalan mundur perlahan. Takut jika ada suara gertakan sedikit saja dari sang Raksasa.
Nenek Pakande terpeleset karena licinnya belut-belut yang sudah disiapkan sebelumnya. Aduh, aduh, kepalaku, aduh. Nenek Pakande yang terkenal akan kesaktiannya,akhirnya masuk dalam jebakan yang telah dipersiapkan dengan cermat oleh La Beddu. Tubuhnya terhuyung, lalu roboh tewas seketika. Setelah memastikan bahwa nenek Pakande benar-benar tak akan bangun lagi, barulah warga berani mendekat dan melihat jasadnya dari dekat.
Ketakutan perlahan berubah menjadi kelegaan. Lihat, nenek jahat ini telah tewas. Kita harus merayakannya malam ini. Jangan merayakan apapun. Memang kita berhasil mengalahkan nenek Pakande.
Namun, jangan lupa, anak-anak yang telah diculiknya belum tentu bisa kembali ke keluarganya. La Beddu, menurutmu, apa yang harus kita lakukan pada jasad nenek Pakande ini? Untuk mencegah agar kegelapan ini tak pernah kembali, lebih baik jasadnya kita bakar. Kita harus pastikan, dia benar-benar menjadi abu.
Teror panjang yang selama ini menghantui warga akhirnya usai.
Jasad nenek Pak Kande dibakar dalam api yang besar, hingga tak tersisa, hanya abu yang tertinggal. Tak lama kemudian sebuah keajaiban terjadi dari kejauhan terdengar suara langkah kecil dan tangisan lirih. Ternyata, kakak beradik yang sempat diculik bersama bayi muncul dari kegelapan. Mereka selamat. Tangis haru pecah, keluarga mereka menyambut dengan peluk hangat.
Desa Sopeng pun kembali tenang..
Tag:budaya indonesia, budaya sulawesi, cerita leluhur, cerita moral, cerita nenek, cerita rakyat indonesia, cerita rakyat legendaris, cerita rakyat sulawesi, cerita tradisional, dongeng anak, dongeng indonesia, dongeng klasik, dongeng rakyat, dongeng tradisional, folklore indonesia, folklore nusantara, folklore sulawesi, kearifan lokal, kisah inspiratif, kisah legendaris, kisah nusantara, legenda indonesia, legenda nenek pakande, tradisi indonesia, warisan budaya



